Kamis, 14 Juli 2016

Hari Ini Adalah Milikku!

Bismillahirrahmanirrahim...
Untuk hari ini aku akan menjaga lisanku, maka aku tidak akan mengucapkan kata-kata yang terlarang dan jorok, mencaci-maki, atau mengumpat.
Untuk hari ini, aku akan merapikan rumah dan kamarku, maka tidak akan ditemui lagi tata letak yang kacau dan berantakan, tetapi semuanya akan tertata rapi.
Untuk hari aku hidup, maka aku akan membersihkan tubuhku, memperindah penampilanku, memperhatikan kerapianku, dan bersikap sewajarnya dengan mengatur cara jalan, bicara, dan semua gerakanku.
Untuk hari ini aku akan hidup, maka aku akan bersungguh-sungguh melakukan ketaatan kepada Tuhanku, menunaikan shalatku dengan sebaik-baiknya, membekali diri dengan shalat sunnah, membiasakan baca Al-Qur'an, menalar buku-bukuku, menghafal ilmu yang berfaidah, dan menelaah buku yang bermanfaat.
Hanya untuk hari ini aku akan hidup, maka aku akan menanamkan kebaikan, dalam kalbuku dan mencabut darinya segala bentuk kejahatan yang tumbuh di dalamnya serta ranting-rantingnya yang berduri, seperti kesombongan, keangkuhan, riya', iri, dengki, unek-unek, dan buruk sangka.
Untuk hari ini aku akan hidup, maka aku akan memberikan hal-hal yang bermanfaat bagi orang lain dan memberikan kebajikan kepada orang lain.
Untuk hari ini aku akan hidup, maka wahai masa lalu yang telah pergi dan menghilang, enyahlah seperti matahari. Aku tidak akan menangisi kepergianmu dan engkau tidak akan melihatku duduk merenung untuk mengingatmu walaupun hanya sedetik, karena engkau telah meninggalkanku, hijrah dariku, dan pergi dariku untuk selamanya dan tanpa pernah kembali.
Wahai masa depan, engkau masih berada di alam ghaib, maka aku akan berinteraksi dengan mimpi-mimpi. Aku tidak akan menjual diriku kepada ilusi dan bayangan dan aku tidak akan menyegerakan kelahiran yang tiada. Hari esok masih belum ada, karena ia belum diciptakan dan masih belum disebut-sebut keberadaannya.
Hidupku hanyalah untuk hari ini...!!!
Hari ini adalah milikku...!!!

Rabu, 13 Juli 2016

"Djogjakarta"

Daratan yang membentang luas
Lautan yang kian memisahkan
Diriku terdampar hingga jauh yang tiada batas
Meninggalkan sanak saudara di kampung halaman

Ku pergi jauh dari sisi yang menyayangiku
Menuju kota yang tak pernah terlintas akan ku jejaki
Yang tak pernah terfikir akan ku tempati
"Djogjakarta"...
Tempatku menuai ilmu
Kesedihan menyertaiku saat ku pergi
Dari sisimu...
Kesedihan kadangkala menemaniku
Saat dikau tinggalkan diriku

Ku mencoba mencari teman
Yang mungkin dapat menemaniku
Dalam mengurangi rasa kesepian ini
Tapi.. Itu semua sungguh sulit ku dapatkan

Setiap melangkah, selangkah demi selangkah
Kian hari tlah berganti
Namun, terkadang sedih datang menerpa
Yang menggoyahkan semangatku yang tinggi

Ku coba... Dan slalu kucoba
Untuk memberanikan diri
Tapi... Ku tak tahu kemana kaki kan melangkah
Ku renungkan, fikirkan kemana ku kan berjalan

Dikatakan duka namun tak menderita
Disebut derita tapi tak tersiksa
Dibilang sepi tapi ada yang menemani
Tapi...  Semua itu tiada arti!

Orang tertawa, daku turut tertawa
Namun dihati merasa sengsara
Ku ditinggalkan tiada daya dan upaya
Makan, tidur pun ku tak kuasa

Disetiap keheningan malam
Membuat ingatan kepada kemalangan
Pergi jauh dari selubung ketentraman
Demi masa depan yang tak kunjung kejadian

Kuharungi kegembiraan di balik kesedihan
Kujalani kesedihan diawali kegelisahan
Ku ingin mengadu belas kasihan
Kepada siapa...??
Ku tak tahu arah jalan dan simpangan...!!   

(Karangan: Abangku tersayang @_@)

Kamis, 02 Juni 2016

Ikhlas, syukur, kajaiban

Ikhlas. Sesuatu yang sebenarnya sudah mutlak ada dalam diri kita. Hanya saja bagaimana cara membangunkannya, agar teraplikasi dalam kehidupan kita. Yang sekarang belum bisa atau sulit untuk melakukan sesuatu dengan berlandaskan ikhlas, mungkin saat ini ikhlas itu masih tertidur dialam bawah sadar anda. Dia masih nyenyak dalam keheningan malam, masih terpukau dengan mimpi-mimpi indah yang ujung-ujungnya banyak menggalaukan setiap insan. Dia tidak lah akan bangkit jikalau iman tak menyertai jiwa dan raga ini. Dia datang pada jiwa-jiwa yang bersih. Pada roh-roh yang selalu mengharapkan ridho-Nya. Seharusnya kau sadar wahai jiwa yang selalu tidur. Lihatlah disekelilingmu! Betapa banyak kebaikan yang bertebaran di sekitarmu. Hanya saja, kebaikan itu dapat dilihat, dapat dirasakan, dan dapat dikenali oleh hati yang sengaja memper-hati-kannya. Nyalakanlah mesin kesadaran itu, teman!
Ciptakanlah sebuah bengkel dihatimu agar setiap kau rasa hatimu telah rusak, telah ada kesalah teknisan didalamnya, maka kau dapat memperbaikinya didalam dirimu sendiri, yaitu dibengkel hatimu.
Larry Dossey pernah mengatakan bahwa "Doa adalah pengingat akan sifat manusia yang luar biasa, bahwa ada bagian diri kita yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Keyakinan bahwa kita selalu berada dalam lindungan-Nya". Jadi, kita jangan terlalu sombong kepada Allah. Merasa diri lah yang paling hebat, paling kuat, dan paling bisa, sehingga enggan untuk meminta kepada Allah, sulit untuk berdoa kepada-Nya. Hey, kamu! Hey, diri ini! Sadarlah, kita itu tidak berdaya kecuali dengan kekuatan dari Allah. Coba lah kita renungkan bersama-sama!! Apakah kita pernah bersyukur kepada Allah atas apa yang telah DIA berikan selama ini?? Sudah berapa umur yang telah kau jalani? Adakah kau memikiran darimana nikmat umur itu datang? Dari mana nikmat sehat itu hadir?
Albert Einstein juga pernah mengatakan bahwa "Ada dua cara menjalani kehidupan. Pertama, menganggap bahwa tidak ada satu pun kejadian yang ajaib. Kedua, menganggap bahwa semua yang terjadi adalah keajaiban."
Mengenai masalah keajaiban, kita tidak perlu mencarinya kawan!. Simple saja. Apa kau tau?? Setiap saat keajaiban itu  memancar seperti siaran di radio kita. Kau hanya perlu menaikkan antenanya, keraskan suaranya... dan jreng!... keajaiban akan datang..!

Rabu, 01 Juni 2016

Sepucuk Surat Untuk Ayah

Saatku lahir kedunia ini,
Berjuta-juta kebahagiaan yang kau rasakan.
Saat itu aku memang masih kecil, masih bayi
Tapi aku telah mampu merasakan kebahagiaan yang kau rasakan.
Ayah,
Adalah panggilan khususku untuk mu.
Kenapa aku tak memanggilmu Papa?
Karena panggilan itu kurang akrab bagiku.
Kenapa aku tak memanggilmu Bapak?
Karena bagiku gurulah yang kusebut bapak.
Memang kau juga guru bagiku,
Guru abadi dihatiku yang mengajarkan aku agar slalu menutup aurat,
Menjadi anak shalehah yang kau inginkan.
Kenapa pula aku tak memanggilmu Abi?
Yah, karena kita bukan dari keluarga bangsa Arab 😁.
Ayah,
Dulu kau lah yang banyak mengajarkan aku berbagai macam hal yang tak ku ketahui sebelumnya.
Banyak hal baru yang telah kau perkenalkan padaku.
Begitu juga dengan jilbab ini.
Jilbab yang sekarang kukenakan adalah berkat dari ajaranmu,  Ayah.
Dulu aku heran denganmu,
Setiap hari kau slalu memberikan penjelasan bagaimana caranya agar aku mau mengikuti aturanmu untuk menutup aurat.
Waktu itu aku tak aku tak mengerti apa maksud dari semua itu!!??
Toh banyak dari kawan-kawanku yang tak memakai jilbab.
Kenapa aku dianjurkan??
Saat itu aku merasa dihimpit,
Tak bisa bertingkah sesuai yang kumau,
Semua ada aturannya,
Semua ada batasannya,
Semua ada hukumnya,
Gak boleh ini, gak boleh itu.
Gak boleh pakai yang ini, gak boleh pakai yang itu.
Gak boleh kesana, gak boleh kesini.
Ah, semua itu membuatku terkekang.
Tapi kini aku sadar, Ayah
Sekarang anakmu ini sudah mulai mengerti.
Aku sudah paham dengan maksudmu itu.
Kini aku menyesal ayah,
Karena dulu aku pernah kesal kepadamu,
Saat kau tak bosan-bosannya menasehatiku untuk tetap mempertahankan jibab ini.
Aku sering marah padamu 😔
Aku sering mengejekmu dari belakang 😥
Bahkan aku pernah mendoakan yang tidak baik untukmu 😭
Ya Allah, betapa bodohnya aku 😥😭😢
Betapa durhakanya aku padamu, Ayah 😥😭😭
Ayah, maafkan aku yang tak bisa menjadi anak shalehah yang kau inginkan.
Maafkan aku yang sering sekali melanggar apa yang kau katakan.
Sekarang aku sadar bahwa apa yang kau katakan semua itu adalah yang terbaik untuk ku,
Untuk masa depanku,
Untuk bekal ku diakhirat nanti,
Juga untuk menolong kalian dari azab Allah.
Andai waktu itu bisa ku beli,
Akan ku putar masa kecilku dulu,
Akan kuperbaiki semua kesalahan yang pernah kulakukan.
Tapi...
Semua itu tak akan mungkin.
Aku hanya bisa merelakan masa lalu.
Yang sekarang harus kulakukan adalah bagaimana aku harus bisa menghapus dan menggantikan segala kesalahanku padamu agar menjadi berkah dikehidupanku mendatang...

Ayah,
Terima kasih atas segala ajaran-ajaranmu Ayah
Tak ku percaya kau melakukan semua itu hanya untuk kebaikan ku 😥😘😘

Smoga kau sehat selalu..
Begitu pula dengan Mama 😘😘
Aamiin... 🙏


Sabtu, 14 Mei 2016

Disenyumin aja

Dan sekarang hal yang kutakuti akhirnya terjadi. Semakin ku mendekat, semakin marak saja perkataan2 buruk itu. Lecehan2 itu. Dan sekarang bahkan lebih dari sekedar lecehan. Baiklah, mungkin saat ini aku akan menghilang. Bukan berarti aku lemah. Bukan karena aku tak ada kekuatan menghadapinya. Tapi karna semua ini cukuplah Allah yang mengatur jalan ceritanya. Dari awal sudah ku katakan, bahwa ini akan berakibat buruk. Bukan karena aku yang salah dalam berperilaku, tapi ini semua terjadi karena kesalah pahaman mereka yang selalu beragument buruk tentang apa yang mereka liat padahal sebenarnya mereka tak melihat. Mereka buta. Buta akan semua kepribadianku. Tapi itu tak membuat ku gundah gulana. Karena yang kucari bukanlah ridho atau penilaian dari makhluk ciptaan-Nya, melainkan ridho dari Allahu Rabbi.

Selasa, 10 Mei 2016

Bukti Cintaku

Sekarang aku tau alasanmu mendiamkanku
Kau selalu berfikir ku terlalu sempurna bagimu
Dan kau menganggap bahwa dirimu tak layak disampingku
Untuk kesekian kalinya kau salah mempersepsikan sesuatu

Waktu terus berputar
Tapi aku tak kan gentar
Aku akan tetap memperjuangkan
Agar cerita ini layak diabadikan

Tingkahmu, sikapmu, dan gaya bicaramu
Semuanya menunjukkan kesederhanaanmu
Tapi kau harus sadar dan tau
Bahwa kaulah yang mengisi kesederhanaanku

Dari yang kosong menjadi terisi
Dari yang sepi menjadi ramai
Dari yang ragu menjadi percaya
Dari yang sedih menjadi bahagia

Kadang aku bingung dengan perasaan
Dia yang datang tanpa pernah diminta
Dia yang pergi tanpa pernah diperintah
Dan dia yang abstrak tapi dapat dirasakan

Saat dia telah bercampur dengan trombosit darah
Yang kemudian bertarung dengan hebatnya bersama dentuman jantung
Lalu mengalir keseluruh tubuh dengan pasrah
Dan didalam hati terasa indah juga sesak, membuat diri semakin bingung

Sabar
Sabar dalam penantian tidak membuat cintaku menjadi hambar
Justru disitulah aku merasakan keindahan
Karena ku tlah menyandarkan cinta hanya pada Tuhan

Ku mencintaimu
Maka kukirimkan doa untukmu
Ku merindukanmu
Maka pilihanku adalah terus berdoa untukmu
Itulah bukti cintaku...

Sabtu, 07 Mei 2016

Cerpen Cinta Terpendam

SESYAHDU SUJUDKU DISEPERTIGA MALAM

Awalnya ini adalah tugas dari salah satu organisasiku di kampus. Kami ditugaskan oleh mentor alias kakak senior untuk membuat antalogi dengan tema “Hidden Love” atau Cinta Terpendam. Yaaah, dari judulnya aja udah kelihatan kalo ceritanya pasti galau. Tapi jangan salah tanggap dulu, cerita ini dijamin dapat menumbuhkan semangat anda dalam mencintai seseorang, apalagi yang lagi patah hati ni, supaya jangan galau-galau terus.eh, jangan bilang siapa-siapa ya, sebenernya cerita ini adalah kisahku sendiri. Hanya nama saja yang dirubah. Dan disini, aku berharap sekali jika ceritaku ini nantinya terpilih untuk dicetak di buku cerpen antalogi kami nanti. Aamiin.. Karna katanya, tidak semua cerita yang dapat terpilih, ada penyaringan lagi. Oke, langsung aja kita simak ceritanya.. :)
Namanya Athifa Zakhira Matondang. Dia berasal dari suku Batak Mandailing. Dan sekarang, dia sedang menjalani pendidikan di Universitas Islam Negeri Sumatera Utara. Dia adalah anak bungsu ayah dan ibunya. Seperti apa yang dikatakan orang banyak, anak bungsu biasanya anak yang paling disayang dan dimanja oleh kedua orangtua. Begitu pula yang terjadi dengan Athifa. Dia merupakan anak perempuan yang paling disayang oleh kedua orang tuanya, sedikit pun ia tidak pernah merasa kekurangan cinta dan kasih sayang dari orang tua. 
Hari ini kegiatan yang dia lakukan sama halnya dengan hari-hari biasa. Bangun pagi, mandi, bersiap untuk berangkat kuliah, dan di kampus bertemu dengan “Mr. Cuek”, cowok idolanya di kampus. Kebetulan pagi ini cuacanya sangat cerah. Semangatnya pergi kuliah pun sangat menggebu-gebu. Sebelum berangkat, Athifa sudah mempersiapkan apa-apa saja yang akan dia bawa ke kampus. Dan tak pernah lupa dia membawa buku kecil khusus buat tulisan tentang perasaannya dan kejadian-kejadian apa yang terjadi di kampus tentang sikap “si Mr. Cuek”.
Sesampainya di kampus…
“Loh, itu kan dia???? pagi-pagi gini udah nengok pangeran khayangan aja. Ya Allah.. sepagi inikah Kau akan menguji imanku…???” ucap Athifa dalam hati sambil tersenyum-senyum sendiri dan masih terus memandang lelaki idolanya berjalan di depannya.
Seperti biasa, dia hanya bisa memandang lelaki itu dari jauh. Dia tak berani mendekat, apalagi mengajak lelaki itu bicara. Akhirnya, dia hanya bisa berjalan di belakangnya sambil terus menunduk sampai-sampai ia hampir menabrak tembok di depannya. Entah sampai kapan perasaan ini terus terpendam dalam hatinya, Athifa pun tak tau.
Dalam Islam pacaran itu dilarang. Itu sebabnya, dari dulu sampai sekarang Athifa tak pernah pacaran, alias jomblo sejati. Semua lelaki yang mendekatinya, langsung dia tolak begitu saja. Begitupun setelah Athifa bertemu dengan si “Mr. Cuek”, keadaan masih sama persis. Walaupun kenyataannya Athifa memendam rasa yang sangat dalam kepada lelaki idolanya tadi, tapi dia tetap komitmen pada satu target untuk tidak pacaran.
Athifa selalu berfikir, apakah dia berdosa mencintai seorang lelaki dengan cara seperti ini. Apakah salah jika dia menyimpan rasa cinta pada seorang lelaki yang belum halal baginya. Yang dia tau hanyalah rasa cinta itu terus bertambah setiap detik, tanpa bisa ia hentikan.
Haziq. Haziq adalah nama lelaki yang Tifa kagumi. Tepatnya adalah Haziq Raqilla Efendi. Haziq seumuran dengan Tifa. Mereka berada di kampus yang sama, jurusan yang sama pula, tapi berbeda kelas. Kelasnya Haziq bersebelahan dengan kelasnya Tifa. Setiap hari Tifa selalu melewati depan pintu kelas Haziq, berharap bisa melihat Haziq walaupun hanya sepintas.
Selain dirinya dan Allah, ada satu orang yang mengetahui perasaannya terhadap Haziq. Dia adalah teman dekatnya Tifa, namanya Qaesyarah dan biasa dipanggil Sarah. Hari demi hari berlalu, tak bosan-bosannya Athifa terus memantau sikap dan prilaku Haziq. Ternyata, Haziq bukanlah tipe cowok yang recok. Dia tidak suka keramaian, itu lah kenapa dia lebih suka menyendiri. Kalau bukan orang lain yang berbica terlebih dahulu, dia tidak akan berbicara. Yah, itu lah cowok cuek yang dikagumi Athifa.
“Eh, liat deh. Dia lagi dengerin musik tuh. Gilaaak keren banget kan gayanya. Dia juga bisa main gitar lho. Tipe aku kali pokoknya”, kata salah satu teman sekelas Tifa yang ternyata juga menyukai Haziq.
Sabar ya Tifa, memang udah banyak kok yang suka sama dia. Jodoh gak bakal tertukar kok. Jadi santai aja, okey?”, ucap Sarah sambil terus mengelus-elus pundak Athifa.
Athifa lalu pergi meninggalkan Sarah dan ia menuju taman yang berada tak jauh dari tempat mereka mengobrol tadi. Lalu ia membuka tasnya dan mencari buku kecil yang semuanya tulisan tentang lelaki idolanya, Haziq. Dalam buku kecil khusus itu, Athifa menuliskan...
Tak mengapa jika banyak yang suka padamu, jika banyak yang mengagumimu, dan banyak sekali perempuan yang ingin menjadi pacarmu. Sekalipun jika akhirnya aku tau kamu akan berpacaran dengan salah satu temanku, aku tak akan menangisimu, karena aku masih memiliki cinta yang kekal sampai kapan pun, yaitu cintaku pada Allah. Ya Allah, mohon jagalah hati ini agar aku tidak berlarut-larut dalam cinta yang salah. Aku hanya ingin mencintai-Mu saat ini, maka hilangkanlah sedikit demi sedikit rasa cintaku kepada kekasih-Mu ini…
Bleeb, buku itu pun ditutupnya.
Malam itu, seperti biasa Tifa terbangun di sepertiga malam dan biasanya ia langsung menuju kamar mandi lalu berwudhu dan melakukan shalat tahajjud. Terlahir dari keluarga yang kuat agama membuat Tifa menjadi anak yang rajin beribadah, yang wajib maupun sunnah. Setiap malam, ia tak pernah absen menunaikan shalat tahajjud dan dilanjutkan dengan menghafal Al-Qur’an. Setelah shalat tahajjud dua rakaat, ia pun berdoa kepada Allah. Yang paling utama didoakannya adalah kedua orang tuanya. Lalu doa untuknya dan keluarganya. Setelah itu, barulah ia mendoakan hal-hal pribadinya. Termasuk Haziq. Ya, Haziq memang selalu hadir disetiap doa-doa sepertiga malamnya. Tifa tidak meminta agar Allah betul-betul menjodohkannya dengan Haziq. Tapi, ia memohon kepada Allah untuk selalu menjaga cintanya terhadap Haziq agar tidak melebihi cintanya kepada Sang Maha Pemberi Cinta. Dan doa ini menjadi doa yang tidak pernah ia tinggalkan.
Keesokan harinya…
Setelah lelah seharian melewati aktifitas di kampus, Tifa pun ingin segera pulang karena hari juga semakin sore. Dijalan menuju rumahnya, sambil mengendarai kereta, Tifa bernyanyi-nyanyi dan fikirannya melayang ke siapa lagi kalau bukan Haziq. Difikirannya, dia berharap bertemu sekali saja dengan Haziq saat itu juga, detik itu juga, dan menit itu juga. Tapi, ia pun sadar. Mana mungkin ia bertemu dengan Haziq di jalan ini. Pasti lah sekarang Haziq sudah berada di rumahnya, atau mungkin masih berada di sekitar kampus. Tapi… tiba-tiba saja, seperti kemukjizatan, Haziq datang dengan keretanya sambil terus melaju pelan mendekat kesamping Tifa. Sepontan, Tifa pun kaget. Karena apa yang ada difikirannya saat itu, tiba-tiba langsung menjadi kenyataan.
“hey, ngelamun aja.. Nanti nabrak baru tau rasa”, kata Haziq yang tiba-tiba muncul di hadapan Tifa.
“Haziq?? Dari mana kamu? Kok bisa disini?
“ya bisa lah. Aku kan biasanya memang lewat sini kalau pulang kampus. Kenapa? Kok bingung gitu wajahnya?”
“Eng..eng..enggak kok. Gak ada apa-apa” kata Tifa dengan terbata-bata.
“Aneh”, jawab Haziq.
“Haziq, aku duluan ya. Assalamu’alaikum..” ucap  Tifa.
“Wa’alaikumsalam”, jawab Haziq.
Lalu mereka pun berpisah disebuah persimpangan karena arah rumah mereka berbeda.
Sampai dirumah, Tifa masih terus tidak percaya dengan apa yang terjadi hari ini. Dia tidak menyangka jika keinginannya bertemu dengan Haziq di jalan seketika itu dikabulkan oleh Allah. Entah itu hanya kebetulan saja, atau mungkin memang rencana Allah. Yang jelas, Athifa sangat senang sekali karena bertemu dengan Haziq, walaupun hanya sebentar saja.
 Tak terasa semester satu telah berlalu. Sudah cukup kuat Athifa menyimpan perasaannya terhadap Haziq selama satu tahun lebih. Karena ternyata, tidak gampang dan tidak enak jika kita memendam rasa cinta pada seseorang. Nah, itu lah yang dirasakan Athifa. Berlanjut ke semester 2, nasibnya masih tetap sama. Athifa tetap memilih memendam rasa sukanya terhadap lelaki yang dia kagumi. Sampai detik ini, Athifa tak mengerti apakah rasa ini sudah menunjukkan rasa cinta atau malah hanya sekedar rasa kagum pada seseorang saja.
 “ Tifa, ada berita bagus lho”, kata Sarah
“Berita apa lagi sih Sarah?? Pasti gosip ya? Gak mau ah! Dosa tau gosipin orang.” Jawab Tifa acuh tak acuh.
“Bukaaan. Ini masalah Haziq. Kamu harus tau satu hal ini”
“Haziq?? Kenapa lagi dengan dia? Udah lah Sarah, aku mau lupain dia aja, sekarang aku gak mau bahas tentang dia lagi”
“Tifaaa, dengar dulu. Kemaren, aku ketemu sama Haziq. Dia bersama perempuan teman sekelasnya. Entah apa yang mereka perbincangkan, tapi mereka kelihatan serius sekali, dan disitu aku melihat kearakraban mereka kuat sekali. Terus, setelah perempuan itu pergi, aku menghampiri Haziq. Aku gak tega jika temanku tersayang ini terus sakit hati dibuatnya. Maka dari itu, aku katakan kepada Haziq kalau kamu sangat mencintainya. Dia terdiam dan gak percaya dengan apa yang kukatakan. Tapi aku gak punya waktu banyak, setelah aku katakan semuanya, aku pun pergi meninggalkannya”, ujar Sarah panjang lebar.
“Sarah.. kamu bilang semuanya ke Haziq tanpa persetujuanku terlebih dahulu?? Kan aku jadi malu nanti kalau bertemu dengan Haziq…” kata Tifa sambil merengut.   
“heeeii, denger dulu, aku kan belum selesai bicara. Setelah kejadian itu, malamnya langsung Haziq mengirim pesan padaku lewat BBM. Katanya, dia gak percaya kalau ternyata perempuan yang ia cintai selama ini juga mencintainya secara diam-diam”.
“eeiitss, tunggu dulu. Haziq bilang dia gak percaya kalau ternyata perempuan yang ia cintai selama ini juga mencintainya secara diam-diam??? Itu artinya…. Haziq juga mencintaiku??? Iya, iya kan Sarah??”, Tanya Tifa sambil mengguncang-guncangkan badan Sarah.
Setelah mendengar cerita dari temannya bahwa Haziq juga memiliki perasaan yang sama, membuat Athifa begitu kegirangan. Sampai akhirnya ia membuka lembaran buku itu lagi lalu dengan cepat ia menuliskan…
Jatuh cinta memang fitrah bagi setiap manusia. Tapi bagaimana cara untuk mengekspresikannya adalah pilihan. Ada satu keindahan yang mengatur alur ceritanya. Dan bagiku keindahan itu adalah ISLAM. Islam mengajariku bagaimana membaikkan fitrah yang dianugerahkan kepada-Nya. Meski tak terucap dan tak tersampaikan, hatiku tetap bahagia karena Islam telah menjaga.
Saat rasa belum mampu ku eja. Maka pilihanku adalah tetap berusaha, hingga aku sanggup membaca. Jika rasa telah sanggup kubaca. Maka pilihanku adalah berusaha untuk merangkai kata. Jika aku telah mampu merangkai kata. Maka rasa ‘kan ku tulis hingga makna mengisi sebuah cerita. Inilah yang kusebut penantian di dalam asa. Bahagia dan sempurna bersama doa dan usaha.
Oh Tuhan… inikah hadiah yang kau berikan untukku setelah sekian lama aku bersabar menunggunya dan memasrahkan rasa cinta ini hanya pada-Mu..?aku benar-benar tak salah pilih memutuskan bahwa Kau lah tempat berlindungku, sehingga aku dapat ikhlas menyandarkan rasa cinta ini hanya pada-Mu.
Dan sekarang, Tifa dan Haziq semakin dekat. Mereka tidak berpacaran, tetapi saling menjaga silaturahim antara keduanya. Karena ternyata mereka adalah satu komitmen, NO PACARAN! Dan sampai detik ini pun mereka saling memberi kabar, layaknya hubungan antara sahabat.