Rabu, 11 Januari 2017

Ruang dengan Tuhan

Perjalanan itu kunamakan Hijrah

Maaf Tuhan, sampai hari ini aku masih memperjuangkan hafalan yang sedikit demi sedikit menghilang

Maaf Tuhan, sampai hari ini aku masih menjadikan dunia sebagai tujuan

Maaf Tuhan, sampai hari ini aku masih mengumbar aurat, dan foto di media sosial

Maaf Tuhan, sampai hari ini aku masih enggan mengingat-Mu disetiap kehidupan

Maaf Tuhan, sampai hari ini aku masih galau hanya karena perihal perasaan pada manusia

Maaf Tuhan, sampai hari ini aku masih memiliki rasa malu yang sama sekali tidak ada

Maaf Tuhan, sampai hari ini aku masih menjadi orang yang tidak taat atas apa-apa yang KAU perintah

Maaf Tuhan, sampai hari ini aku masih berupaya menjadi ratu di sosial media tanpa takut dosa

Dan lagi, maaf Tuhan, sampai hari ini aku masih egois dengan perasaan

Sungguh, ini sangat menusuk..

Apa kabar cinta?

Semoga kau sedang sama rindunya
Selepas senja yang meninggalkanku sendirian
Aku menggigil terjamah hujan
Begitu rupanya rindu sendirian
Rindu yang sepihak
Rindu yang didiamkan oleh tuan
Selembar perih yang menagih tangis, memilu di peraduan sakit
Sakit!
Ah, rindu ini memang terasing, tak dikenal pemiliknya
Rapuh, patah berkali-kali

Setidaknya, aku pernah mencintai setulus itu :)

Apa kabar cinta?
Hehehe

Senja yang lupa ku tulis

Cinta itu membebaskan, katanya
Kamu ingat apa yang kamu katakan padaku?
Kamu bilang nanti kamu akan bangunkan sebuah rumah di pegunungan untukku
Kita akan berlomba mendaki gunung dan menikmati matahari tenggelam di sana
Lalu kita mati dan dikubur dipadang ilalang
Kemudian dunia melupakan kita, tapi kita saling memiliki
Kenangan itu.
Milikmu.
Milik kita.
Pergilah sejauh mana kau mau
Jika kau rindu, aku ada dalam kata "selamat tinggal".

Katamu "lepas"
Kataku "pergilah"

Jika masih, sampai bertemu pada pertemuan kedua.

Melepaskan!

Aku sudah memutuskan untuk benar-benar melepaskan. Ah, bukan saja melepaskan. Bahkan aku telah membabat habis setiap rindu yang berusaha tumbuh, menyudahi ceracauan-ceracauan pada bulan dan angin, menutup semua cerita tentang kamu, memutuskan untuk tidak lagi menuliskan apapun huruf tentang kamu. Cerita-cerita kita yang kadang menyenangkan serta kadang menyakitkan itu membuatku banyak belajar hakikat cinta dan memiliki. Hakikat cinta adalah milik-Nya. Aku memilih mendekatkan pada-Nya. Melupakanmu. Benar, tak ada satu pun yang bisa melepaskan kecenderungan hati akan sesuatu selain membuat kecenderungan yang lain. (Ngomong apa sih hayati???)
Baiklah, intinya, aku memilih untuk mencenderungkan hatiku pada-Mu ya Rabb

Senin, 09 Januari 2017

Ada Makna Dibalik Tulisan Ini :)

Aku tak abis pikir
Nafasku ingin berhenti saat itu juga
Goncangan itu muncul lagi
Gugup itu terasa kembali
Anganku telah membuyar
Pernyataanmu membuat aku merasa tak percaya
Rasamu dan rasaku ternyata sama
Anggaplah kau tak pernah mengenalku
Setelah apa yang telah kau rasakan
Engkau mungkin sedang setres
Tapi kau mengatakan "aku sedang waras"
Yah, kau menunggu jawaban
Aku terdiam membisu

Berhentilah, kumohon!!!

Aku tak abis pikir
Nafasku ingin berhenti saat itu juga
Goncangan itu muncul lagi
Gugup itu terasa kembali
Anganku telah membuyar
Pernyataanmu membuat aku merasa tak percaya
Rasamu dan rasaku ternyata sama
Anggaplah kau tak pernah mengenalku
Setelah apa yang telah kau rasakan
Engkau mungkin sedang setres
Tapi kau mengatakan "aku sedang waras"
Yah, kau menunggu jawaban
Aku terdiam membisu

Cinta Rahasia

Tanyakanlah banyak hal padaku
Misalnya bagaimana matahari berwarna gading
Atau bagaimana mimpi hadir dalam kepala
Tapi jangan tanyakan padaku
Bagaimana aku mencintaimu
Sebab aku melihatmu dengan cara "rahasia"
Dengan cara-cara mencintai yang tak terpahami oleh siapa saja
Terima kasih telah membuatku mengerti apa itu cinta :)

Ai lop yu ^_^